Siang itu saya dengan teman mengalami hal yang cukup menarik soal rezeki. Saat itu dia keluar ruangan lalu masuk dengan membawa makanan yang dia dapat dari teman lainnya. Dengan wajah sumringah dia berkata: “Alhamdulillah, kalau mau usaha dan ikhtiar, Allah pasti memberi rezeki”. Padahal yang dia lakukan adalah minta ke teman lainnya. Haha. Kemudian saya pun menimpali sambil tersenyum, “Saya tidak melakukan apa-apa tapi Allah kasih saya rezeki. Boleh saya minta makanannya?”, dia pun memberikan makanan itu ke saya.
Sekilas kejadian tersebut mengingatkan saya pada suatu kisah yang pernah disampaikan oleh K.H. Muhammad Zuhrul Anam—atau lebih dikenal dengan nama Gus Anam, pengasuh Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islami. Dalam ceramahnya beliau bercerita tentang kisah Imam Syafii dan Imam Malik.
Pernah suatu waktu terjadi perbedaan pendapat antara guru dan murid. Dalam literatur keilmuan Islam sudah umum terjadi perbedaan pendapat antar ulama. Dan itu wajar, hal tersebut memberikan warna baru terhadap khazanah ilmu pengetahuan Islam.
Imam Malik berpendapat bahwa, jika kita berkeyakinan mutlak terhadap Allah, pasti Allah akan memberi rezeki walaupun tanpa ada usaha sama sekali. Tetapi Imam Syafii berpendapat lain. Allah akan memberikan rezekiNya jika kita yakin dan disertai pula dengan usaha. Namun Imam Malik tetap berpegang teguh pada pendapatnya.
Imam Syafii beranalogi dengan burung, seekor burung keluar pada pagi hari dan akan kembali ke sarangnya pada sore hari dengan perut terisi, andai kata burung itu tidak keluar sarang maka perutnya tidak akan terisi penuh. Ungkap Imam Syafii pada gurunya. Dan Imam Malik pun tidak berubah, beliau tetap mempertahankan pendapatnya.
Untuk meyakinkan gurunya, akhirnya Imam Syafii pergi keluar mencari inspirasi untuk membuktikan pendapatnya pada Imam Malik. Di jalan beliau bertemu seorang kakek–kakek yang keberatan membawa sekarung kurma, karena merasa iba, Imam Syafii pun menghampiri kakek tersebut dan menolongnya. Seusai menolong, beliau mendapat kurma sebagai imbalan. Kemudian membawa kurma yang didapat ke hadapan gurunya.
“Lihatlah wahai guru, pendapatku lah yang benar. Jikalau aku tidak keluar, pastilah aku tidak akan mendapatkan kurma ini.”
“Tetaplah pendapatku yang benar. Walaupun aku tidak keluar rumah nyatanya Allah mengirim kurma ini ke hadapanku. Bolehkah aku memakan kurma ini?”
Kesimpulan dari cerita di atas adalah; dalam keadaan apapun, tetaplah yakin kepada Allah SWT. Tetap berdoa, memohon kepada Allah, disertai juga dengan usaha sebagai ikhtiar yang kita lakukan. Allah yang telah menciptakan kita semua, pasti Allah juga yang akan menjamin rezeki hambaNya. Bahkan hewan melata sekalipun pasti dijamin rezekinya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Hud: 6.
“Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya”
Percayalah, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan ciptaanNya. Dalam surat Al-Qiyamah: 36 Allah berfirman:
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan sia-sia begitu saja?”
Bukankah kita semua tahu bahwa Allah tidak akan mengingkari janjiNya?
Innallaha Laa Yukhliful Mii’aad. Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janji.
Demikianlah sekilas hikmah tentang rezeki. Mudah-mudahan tulisan ini dapat meningkatkan keyakinan kita kepada Allah, khususnya buat penulis. Serta, lebih banyak manfaat yang bisa dipetik dibanding mudaratnya.
Sebenarnya saya masih ingin melanjutkan tulisan ini dan menuangkan isi kepala. Khawatir terlalu bertele-tele sehingga membosankan, saya rasa cukup sampai disini dulu. Kalau perlu saya buat tulisan lanjutan di lain kesempatan. Sekian.